Dewasa
ini pergaulan remaja di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak remaja
Indonesia yang terjerumus kedalam tindakan – tindakan yang membahayakan
dirinya sendri termasuk membahayakan orang disekelilingnya. Seks bebas
dan memakai obat – obatan terlarang dianggap hal yang biasa. Bahkan
dikalangan remaja tertentu hal ini menjadi trend baru dan dianggap
sebagai “anak gaul”. Kondisi ini dari hari ke hari sangat memburuk,
setiap hari angka kematian yang diakibatkan seks bebas dan narkotika
semakin bertambah. Untuk itu perlu tindakan yang serius dari berbagai
elemen masyarakat baik pemerintah, masyarakat dan dari kita sendiri.
Salah satu dampak pergaulan bebas yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah AIDS.
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang sering kita sebut AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang
timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia akibat infeksi
virus atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies
lainnya (SIV, FIV dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus yaitu
virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena
virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun
mudah terkena tumor. Meskipun penanganan
yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun
penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus
sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim(vaginal,anal,
ataupun oral), tranfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara
ibu dan bayi selama kehamilan bersalin, atau menyusui serta bentuk
kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para
ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara .
Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah
menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada januari 2006 UNAIDS
bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan
kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal
5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah
paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian
sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja,
dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga
dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga
memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya
manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkatkematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua Negara.
Cara Penularan
a. Penularan seksual
Penularan
(transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi
cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat
kelamin, atau membran mukosa mulut
pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko
daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan
seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral.
Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui
seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum
meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak
digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang
memudahkan transmisi HIV. Penyakit menular seksual meningkatkan risiko
penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit danmakrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, danAmerika Utara menunjukkan
bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS
akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.
Transmisi
HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan
kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan
bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan
antarorang. Beban Virus plasma
yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil
pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan
jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju
transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena
perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan
kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang
terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih
mematikan.
b. Kontaminasi patogen melalui darah
Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik(syringe)
yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis
penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas
infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B danhepatitis C.
Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua
infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C. Resiko terinfeksi dengan
HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi
HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan
obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu. Pekerja fasilitas
kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga
dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga
terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dantindik tubuh. Kewaspadaan Universal sering
kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena
sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO
memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara
ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak
aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa - Bangsa,
didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong
negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah
penularan HIV melalui fasilitas kesehatan. Resiko penularan HIV pada
penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju,
pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun
demikian, menurutWHO,
mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman
dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah
yang terinfeksi".
c. Penularan masa perinatal
Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (inutero) selama masa perinatal,
yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak
ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan
persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki
akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah ceasar,
tingkat penularannya hanya sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat
memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat
persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusuimeningkatkan risiko penularan sebesar 4%.
Cara Penularan
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
Hubungan seksual
|
325
|
82,87
|
Pengguna narkotika suntik
|
78
|
17,49
|
Perinatal
|
6
|
1,34
|
Tranfusi darah
|
4
|
0,01
|
Stigma AIDS
Hukuman
sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap
pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain
tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, , dan penghindaran atas orang
yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat
persetujuan terlebih dahulu atau perlindungan kerahasiaannya; dan
penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV. Kekerasan
atau ketakutan atas kekerasan, telah mencegah banyak orang untuk
melakukan tes HIV, memeriksa bagaimana hasil tes mereka, atau berusaha
untuk memperoleh perawatan; sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis
yang dapat dikendalikan menjadi "hukuman mati" dan menjadikan meluasnya
penyebaran HIV.
Stigma AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga kategori:
- Stigma instrumental AIDS - yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular.Stigma simbolis AIDS - yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut.
- Stigma kesopanan AIDS - yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV. Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama yang berhubungan dengan homoseksualitas, biseksualitas, pelacuran, dan penggunaan narkoba melalui suntikan.
Di banyak Negara maju,
terdapat penghubungan antara AIDS dengan homoseksualitas atau
biseksualitas, yang berkorelasi dengan tingkat prasangka seksual yang
lebih tinggi, misalnya sikap-sikap anti homoseksual. Demikian pula
terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan seksual
antar laki-laki, termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang
belum terinfeksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar